Senin, 17 Januari 2011

Kisah Band Grindcore Noxa Mengibarkan Merah-Putih di Eropa

Kisah Band Grindcore Noxa Mengibarkan Merah-Putih di Eropa

Band Noxa di Obscene Extreme Festival 2010

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pada 2010, nama Indonesia harum di salah satu festival musik 'bawah tanah' di Eropa. Band beraliran grindcore asal Indonesia, Noxa, mengibarkan Merah-Putih di Obscene Extreme Festival 2010. Lewat musik dan syair-syairnya, Noxa menghipnotis para pemuja musik cadas pada festival musik grindcore terbesar di dunia tersebut.

Bahkan, CD kompilasi Obscene Extreme Festival 2010 bertajuk Silence Sucks! didedikasikan untuk penggebuk drum pertama Noxa, almarhum Robin Hutagaol.

Setelah Robin wafat, Noxa kini digawangi Tonny pada vokal, Nyoman pada bass, Ade pada gitar, dan Alvin pada drum. Aksi Noxa mengusung Merah Putih di dunia musik cadas internasional bukan pertama kali. Pada akhir Juni 2008, Noxa menggila di Tuska Metal Fest 2008 yang digelar di Helsinki, Finlandia. Konser tersebut merupakan salah satu konser musik beraliran metal terbesar di kawasan Skandinavia.

Meski ditinggal Robin, Noxa tetap unjuk gigi. Gitaris Noxa Ade Hirmenio Adnis menceritakan perjalanan mereka 'merampok' hati para pemuja musik grindcore di Republik Cek pada Juli lalu. Berikut ini kisahnya:

Tur Noxa 2010

Berawal dari saling bertukar surat elektronik dengan pendiri sekaligus pemilik label bernama Obscene Record, Curby, Noxa akhirnya diundang di acara Obscene Extreme Festival 2010. Saat itu, Curby meminta informasi mengenai penggebuk drum Noxa pertama, Robin Hutagaol, yang wafat karena kecelakaan sepeda motor pada 17 Januari 2009. Curby sendiri merupakan pendiri label rekaman Obscene Record yang memiliki acara festival besar tahunan Obscene Extreme Festival.

Pada 2005 dan 2007, almarhum Robin Hutagaol sudah pernah berkunjung ke Obscene Extreme Festival dan mengajukan Noxa untuk bisa tampil tampil di acara itu. CD Noxa berisi album perdana dan kedua juga sebelumnya pernah pula dititip untuk dipromosikan di Obscene Extreme Festival.

Setelah bertukar surat elektronik dengan Curby, akhirnya kami sesama anggota Noxa rembukan untuk menanggapi hal tersebut. Noxa saat ini digawangi Ade (gitar), Tonny (vocal), Dipa (bas), dan Alvin (drum) sebagai pengganti Robin (RIP). Dengan keputusan bulat dan tekad yang kuat, akhirnya kami sepakat untuk memenuhi undangan tampil di Obscene Extreme Festival 2010 yang lokasinya di Trutnov yaitu bagian utara Republik Ceko, Noxa juga melakukan tur dua gigs lagi di Budejovice dan Praha. Sehingga total Noxa tampil tiga kali di tiga kota Republik Cek.

Kami punya jadwal tiga kali tampil di sana. Pertama, pada 13 Juli di Budejovice dengan nama tempat Club Fabrika. Jaraknya kira-kira 160 kilometer atau tiga jam dari Praha ke arah selatan Cek. Lalu 14 Juli di Praha. Nama tempatnya Rock Club Kain. Letaknya di kota Praha zona 4, Dan terakhir pada 15 Juli main di Obscene Extreme Festival 2010. Lokasi festival di Trutnov yang jaraknya juga sekitar 2,5 jam ke arah utara dari kota Praha.

Sebelum berangkat ke Republik Cek, kita mendapat sokongan dari teman-teman band asal Jakarta. Ada sekitar 21 band yang mendukung Noxa dalam sebuah acara yang diberi nama “All Of The Same Blood” yang diadakan pada 27 Juni 2010 di Bulungan Jakarta Selatan, Band yang mendukung Noxa dan tampil di acara tersebut berasal dari berbagai genre mulai brutal death metal, death metal, progressive death metal, thrash metal, hardcore, metalcore dan juga punk,

Band yang tampil: Siksa Kubur, Prosatanica, Paper Gangster, Killed By Butterfly, Invictus, Godzila, Thinking Straight, Divine, Inlander, Gigantor, Slimer, Disagree, The Borstal, Tyranny, Fragment Of Machine, People Shit, Traitor, Basterd, dan Grievance. Kami dari Noxa juga mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan kawan-kawan sesamascene underground yang mudah-mudahan ke depannya kita bisa makin bersatu dan lebih solid lagi.

Tanggal 29 Juni kita sudah mendapatkan visa untuk bisa berangkat ke Republik Cek. Akhirnya kita berangkat tanggal 11 Juli dinihari dengan tiket yang sudah kita beli sekitar satu bulan sebelum berangkat. Kami tiba di Praha pada 11 Juli 2010 sore hari di Praha. Kami disambut Karel (panitia pre-OEF). Kita bermalam di apartemen yang sudah disediakan panitia.

Cuaca di sana ternyata sangat panas. Suhu sekitar 39-40 Celsius, Menurut orang sana, cuaca itu tidak biasa karena biasanya suhu saat musim panas hanya sekitar 15-20 Celsius. Mungkin karena saat ini sedang pemanasan global, jadi panasnya luar biasa pada saat musim panas. Dan ini terjadi juga di seluruh wilayah Eropa, bukan di Republik Cek saja.

Pada 12 Juli 2010 sore, kami langsung berkemas menuju Budejovice. Kami hanya membawa keperluan untuk manggung saja. Beberapa barang yang besar-besar kami tinggal di apartemen karena kita akan balik lagi 14 Juli dan bermalam di apartemen yang sama. Di Budejovice, kami ditemani Rob, panitia dari pre-OEF. Rob merupakan gitaris band grindcore asal Cek, Ingrowing, dan band hardcore Locomotive. Orangnya sangat menyenangkan. Kita diajak makan malam bersama beliau di City Centre Budejovice dan bermalam di apartemen yang sudah disiapkan panitia juga.

Pada 13 Juli 2010 sore, kami bersama Rob menuju venue tempat acara untuk manggung di hari pertama. Di venue kita pun melakukan sedikit latihan karena kita sudah lama enggak pemanasan sekalian check sound. Setelah selesai setting instrument, sound system, dan sedikit latihan, kita pun setting tempat untuk menjualmerchandise. Letaknya di dekat pintu masuk tempat acara.

Noxa main di urutan ketiga di acara tersebut dengan urutan band pada saat itu yaitu bandcrust-punk lokal dari Budejovice, lalu band crust-grind asal Prancis “Whoresnation”, kemudian Noxa, dan terakhir Xaros band crust-grind asal Prancis juga.

Noxa tampil dengan sukses. Pengunjung yang membeli tiket dari data panitia berjumlah sekitar 80 orang di mana MC Fabrika ini adalah pub kecil yang berkapasitas 100 orang.

Acara berjalan dengan lancar dan sukses. Kami juga menjual kaus dan merchandiseNoxa di sana dan ternyata lumayan banyak juga yang beli. Menurut orang sana, kalau band kita bagus dan mereka suka, biasanya mereka akan membeli merchandise yang kita bawa. Wah berarti mereka suka dengan Noxa.

Keesokan harinya pada 14 Juli 2010 pagi, kami berkemas menuju Praha. Sampai Praha, kami besama panitia berkemas menuju tempat acara di “Rock Club Kain” sebuah pub metal di Praha zona 4. Noxa tampil bersama beberapa band lain yaitu band crust-grindasal Belanda, Krush; band grindcore asal Swedia, The Arson Project; band grindcoreasal Inggris+Cek, Hovadah. Ada juga dua band grindcore Prancis yang juga tampil di Budejovice bersama Noxa yaitu Xaros dan Whoresnation.

Jumlah penonton yang hadir memenuhi pub tersebut sekitar 150 orang. Di tempat tersebut, tiap band juga diberi kesempatan untuk menjual dan melakukan transaksi jual-beli merchandise. Acara berjalan dengan sukses dan respons penonton terhadap Noxa juga sangat baik. Hal tersebut terlihat dari penonton yang melakukan mosh pit dari lagu ke lagu.

Pada 15 Juli, Noxa kembali melanjutkan perjalanan menuju Trutnov yang jaraknya sekitar 150 kilometer atau 2,5 jam dari Praha. Di Trutnov inilah acara Obscene Extreme Festival 2010 berlangsung dengan total 66 band yang tampil selama tiga hari dari 15 sampai 17 Juli 2010. Jumlahh penonton mencapai sekitar 30 ribu. Sementara band yang tampil di antaranya DRI, Misery Index, Incantation, Doom, Cripple Bastard, General Surgery, Cattle Decapitation, Haemorrhage, Malignant Tumour, Ingrowing, dan Master.

Pada festival ini, 80 persen band yang tampil adalah band dengan segala jenis alirangrindcore. Sisanya brutal death, death metal, dan crust punk. Pada hari itu, 15 Juli 2010, Noxa main pada pukul 18.15. Pada saat tampil, antusiasme penonton sangat besar dilihat dari penonton yang moshing dan stage diving saat Noxa tampil. Di akhir penampilan, Noxa sempat membentangkan bendera Merah Outih di hadapan ribuan penonton yang datang dari berbagai belahan Eropa dan Amerika pada hari itu.

Noxa selama tur di tiga titik membawakan 14 lagu yang diambil dari album pertama Noxa: Wake Up And Stand Up, Shitty People, Close Minded, Against Humanity dan Ajeng. Dan lagu dari album kedua kami Grind Viruses antara lain : Hancur, Dying Inside Out, Sinetron Sucks, Grind Viruses, Starvation, Lembata, Poligami, dan Catastrophe.

Pada acara Obscene Extreme Festival 2010, panitia juga membuat CD berisi kompilasi dari band-band yang tampil di acara tersebut. CD ini diisii 38 band di antaranya Misery Index, Doom, Cripple Bastard, Haemorrhage, General Surgery. Jumlah lagu dalam CD tersebut sebanyak 45. CD kompilasi Obscene Extreme Festival yang diadakan tahun ini diberi nama Silence Sucks! CD tersebut dipersembahkan untuk Robin Hutagaol (RIP)drummer pertama Noxa, dan pada cover OEF CD Compilation tersebut juga ditampilkan foto Robin Hutagaol (RIP).

Senin, 28 September 2009

GRINDCORE

GRINDCORE

Mendengar musik ini memang dapat memekakkan dan merobek gendang telinga kita karena kebisingan sound yang dikeluarkan dari cepatnya tempo ketukan drum, bass dan sound guitar penuh distorsi yang dimainkan dengan powerfull diikuti oleh emosi vokal scream dan growl yang sangat extreme dan kejam. Tetapi itulah musik Grindcore yang telah hadir dan menembus persaingan industri musik didunia selama kira2 lebih dari 20 tahunan belakangan ini hingga sekarang.

Berawal dari era tahun 80an dimana para pendengar heavy metal, trash metal, death metal dan punk mencoba menggabungkan menjadi satu aliran baru yang akhirnya terbentuklah band2 grindcore.

Band2 seperti Napalm Death asal Inggris, Repulsion asal Amerika telah melahirkan aliran musik baru yang banyak terinfluence dari band2 seperti Discharge (punk d-beat style), Celtic Frost (symphonic-gothic metal), Voivod (thrash-progressive metal), Crucifix (hardcore punk), Venom (heavy metal/first wave of black metal), Slayer (thrash metal), GBH (punk).

Napalm Death

Sebelumnya band ini bernama Civil Defence terbentuk tahun 1982 di Birmingham Inggris. Mereka mengembangkan aliran musik jenis baru dengan bahan heavy metal, punk. Dimotori Nicholas (Nic) Bullen (vokal), Justin Broadrick (gitar), Miles Ratledge (drum), dan Finbar Quinn (bas). Kemudian Miles diganti oleh Mick Harris, mereka merilis album pertama Scum (1987) Napalm Death yang sampai hari ini dan berbagai pendapat banyak yang mengatakan bahwa dari lahirnya album inilah pertama kali adanya jenis musik grindcore. Ada yang berpendapat bahwa karena drummer Napalm Death, Mick Harris dengan pukulan drum yang ia mainkan sangat cepat dan menghasilkan sound seperti senapan mesin yang ditembakkan sehingga menghasilkan suara seperti sedang menggrinda orang yang mendengarnya maka istilah Grindcore itu tercipta.

Repulsion

Band extreme metal ini asal Flint, MI. Awalnya Matt Olivo dan Scott Carlson membentuk band Tempter tahun 1984, mereka biasa memainkan heavy metal dan punk band, seperti Iron Maiden dan GBH. Repulsion : Scott Carlson-bass dan vocal, Aaron Freeman-guitar, dan Dave Grave-drum influences mereka adalah Venom, Hellhammer, Slayer, Slaughter (Canada), dan Discharge. Band ini telah memperkenalkan jenis music extreme baru dari scene metal underground. Dengan kombinasi dari Hardcore punk dan metal menggunakan pukulan drum blast beat yang tak putus2, dengan sambaran guitar seperti petir, sound bass yang terdengar seperti bulldozer yang hendak meratakan tanah dan vocal yang extreme dan dikemas menjadi aransemen yang sangat menarik dengan durasi yang sangat cepat. Tetapi demo2 mereka selalu ditolak oleh perusahaan2 record label di masa itu dengan alasan lagu2 mereka terlalu extreme dan ngga ngejual. Setelah melewati berbagai panggung, radio, majalah, dan tur akhirnya mereka mendapat kabar baik dari Bill Steer & Jeff Walker dari UK (Carcass) yag memutuskan untuk merilis demo mereka untuk di remix dan di re titled menjadi album “Horrified”. Band ini juga termasuk pelopor band aliran Grindcore.

Pada masa itu band2 beraliran grindcore itu sendiri mempunyai karakter sound seperti death metal dan crust punk yang dikemas dan dimainkan dengan tempo yand sangat cepat dan padat. Penggabungan ini juga diambil dari style thrash metal, punk dan hardcore yang memiliki ciri vocal scream growl dan dimainkan dengan durasi yang sangat pendek dengan lirik yang banyak berisi tentang protes sosial dan politik.

Musik Grindcore ini memiliki kebebasan yang lebih luas dibandingkan dengan musik metal lainnya seperti thrash metal, death metal, heavy metal yang kebanyakan band dari aliran musik tersebut mempunyai batasan2 dan aturan pada patron dan lirik serta teknik permainannya. Teknik permainan aliran musik Grindcore berbeda dengan aliran jenis musik2 itu, bila disimak dari dari segi drum yang dimainkan mereka menggunakan ketukan yang sangat cepat dengan menggunankan teknik Blast beat dan d-beat dimana banyak sekali band2 Grind Europe yang memakai teknik ketukan ini, untuk guitar dengan tuning yang low dan sound distorsi yang kasar serta banyak mamakai teknik permainan dari penggabungan aliran musik Punk denqan Death Metal, cara ini membuat guitaris dan bassis band grindcore sangat leluasa untuk mengekspresikan emosi yang dikeluarkan saat memainkannya sehingga kita dapat memiliki style hardcore punk tetapi dengan kualitas sound metal yang tebal pada saat perform. Untuk vokalis mereka juga sangat leluasa dalam membuat lirik tetapi kebanyakan biasanya tema yang mereka buat berisi protes social dan politik, juga ejekan dan hujatan terhadap hal2 yang dibenci dan tanpa aturan yang dikumandangkan secara bebas.

Paling yang jadi masalah biasanya bila kita adalah termasuk termasuk player di band Grindcore setelah memainkan lagu2 aliran ini untuk drummer bassis dan guitaris hasilnya badan kaki pada pegel, tangan pada kejang, buat vokalis leher dan tenggorokan berasa pedes kering kepala pusing, dah gitu pendengarnya juga jarang lagi apalagi dari anak cewek yang denger, haha.

Sebaiknya untuk bermusik di aliran ini dibutuhkan stamina dan power yang baik dan diperlukan latihan yang rutin dengan frekuensi sedikit dibanyakkin sampe kita bisa dapetin soul permainan dan nikmatnya main musik Grindcore ini, jadi kepuasan yang kita dapat benar2 bisa kita rasain sampe ke ujung pantat dan itu yang gue rasain kalo lagi main sama NOXA. Hehe. Kalo ngga percaya lo boleh Tanya sama player band2 Grindcore lain, rata2 mereka pasti akan jawab seperti yang gue sampein disini. Gue sendiri pernah tanya secara pribadi sama Mika (guitaris Rotten Sound) band Grindcore rilisan Relapse Records asal Findland, gue nanya dia gimana rasanya main grindcore? Di bilang dia bisa berekspresi dengan bebas dan berasa sangat puas walaupun harus dengan stamina dan power yang baik untuk memainkannya dan dia bisa sangat menghayati dan nikmatin main Grindcore. Nah jawabannya hampir sama kan?

Aliran musik ini dapat lebih bebas mengekspresikan lirik kegilaan, kesenangan, kepedihan dan kebencian. Musik Grindcore ini juga dapat memberi kepuasan dan memenuhi emosi pendengarnya walaupun rata2 musik ini hanya berdurasi pendek sekitar 1 atau 2 menit. Player band2 Grindcore biasanya sebelum ngeband grindcore mereka adalah player dari band metal atau band punk, paling tidak biasanya mereka pernah ngeband di jalur itu atau mereka penikmat music beraliran metal dan punk. Jadi aliran musik Grindcore ini sangat mudah diterima dan digemari oleh peminat2 musik metal maupun punk.

Pada Era tahun 90an hingga sekarang musik ini terus eksis. Band2 Grindcore selalu di gemari di daratan Eropa, Amerika dan Asia. Terbentuknya band2 Grindcore seperti Nasum asal Swedia yang dimotori oleh Mieszko Talarczyk guitar/vocal (R.I.P) dan Anders Jacobson drummer memberikan warna baru yang membuat penyegaran bagi para musisi band Grindcore dan pendengarnya. Nasum memainkan Grindcore dengan sound guitar yang di tune sangat low, sound bass yang berdistorsi tebal dan ketukan drum dengan style D-beat dengan tempo yang cepat dan berkecepatan sangat tinggi, serta vocal yang betul2 extreme, cepat dan tajam bikin yang dengerin lagu2 Nasum ini seperti kepala kita itu lagi dijedotin ke aspal. Sayangnya guitarist yang juga vocalist dari band ini Mieszko Talarczyk sudah almarhum karena tertimpa musibah Tsunami di Thailand pada akhir tahun 2006, band ini pun bubar dan mereka telah merilis sebanyak 5 album. Tetapi ex drummer band ini pun membuat band Grindcore baru yaitu Coldworker yang dirilis oleh Relapse record lewat album The Contaminated Void.

Band2 Grindcore saat ini banyak di kita temukan di negara2 Europe dan Amerika. Seperti Regurgitate, Birdflesh, Gadget, Coldworker, asal Swedia Rotten Sound asal Findland, Fuct The Facts asal Canada, Ingrowing, Grid, Phobia asal Czech Republic, Retaliation asal Italy, BlockHead asal France, Terrorizer, Pig Destroyer, Misery Index asal asal Amerika, dll kini mereka masih terus meramaikan aliran musik Grindcore dan selalu ditemukan di setiap acara2 Festival Metal hingga saat ini.

Aliran musik Grindcore sendiri telah terjadi perkembangan2 seperti aliran goregrind, aliran ini lebih memilih tema kearah pembunuhan, pembantaian, mutilasi, dan sejenisnya. Aliran grindcore itu sendiri sebenarnya sangat jarang ditemukan tambahan melodi guitar pada setiap lagunya, paling2 dari sekian album yang pernah dirilis oleh sebuah band grindcore hanya ditemukan 1 atau 2 lagu yang diisi dengan melodi guitar, sementara berbeda dengan Goregrind teknik permainan guitar mereka hampir setiap lagu disisi dengan melodi guitar tetapi permainan rhythm guitar mereka tetap dijalur punk. Goregrind sendiri banyak terinfluence dari aliran musik punk dan death metal. Contoh Band goregrind adalah Exhumed (San Jose), General Surgery (Sweden).

Di Indonesia berkembangnya musik Grindcore ini bermula pada awal 90an hingga akhir era tahun 90an dimana komunitas anak2 underground yang ada pada masa itu terinfluence oleh musik dari band2 seperti Napalm Death, Terrorizer, Nasum, Lock Up, Brujeria, Phobia, dll maka terbentuklah band2 Grindcore pada masa itu seperti di Jakarta Noxa, Grausig, Dead Vertical, Tengkorak di Surabaya Slowdeath di Malang Bangkai, dll. Sampai saat ini band2 Grindcore Indonesia masih tetap eksis dan teteap ikut mewarnai aliran musik Metal di Indonesia.

Demikian sekilas tentang Grindcore, jadi buat para pemain band yang ingin terjun untuk memainkan aliran ini jangan ragu2 untuk maju. Keep Grinding..